Selasa, 12 Juli 2016

Dilatasi Mimpi

Mimpi ini seolah menjadi sebuah kisah
Datang lagi dan lagi, tersusun rapi dalam rangkaian paragraf bernama tidur
Bahkan setelah aku tau
Bahwa aku tidaklah diinginkan

Tak terhitung jumlah hari yang terlampaui
Terkadang senyum, tawa, canda
Tapi tak jarang pula air mata dan amarah

Kenapa aku?
Kenapa harus selama ini?
Aku tak berniat membuat sebuah dongeng menyedihkan untuk anak dan cucuku

Tak pernah ada awal
Hanya ada akhir

Kenapa aku?
Kenapa harus selama ini?
Aku tak berniat hidup dalam pekatnya malam

Ha... akalku sama sekali tak berfungsi
Aku tahu dia tak tahu
Aku paham betul dia tak peduli
Aku mengerti dia takkan mengingat namaku

Tapi...
Kenapa aku?
Kenapa harus selama ini?
Adakah Kau bisa membantuku?

Kamis, 31 Desember 2015

Happy New Year!

Sebenarnya masih ada beberapa jam menuju tahun baru, namun berhubung beberapa hari kedepan (mungkin) saya menghilang dari semua bentuk komunikasi dunia maya (???) maka saya menulis ucapan selamat pada hari ini. Lagi pula saya bukan tipe orang yang menyukai kata "selamt tinggal", jadi kata "selamat tinggal tahun 2015" saya ganti dengan kata "selamat datang tahun 2016".
Selamat tahun baru, semoga tahun 2016 ini jauuuh... lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga di tahun ini semua harapan, cita-cita dan doa dapat terkabul. Semoga tahun ini menjadi tahun terbaik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semoga tahun ini menjadi tahun terakhir di ****** (Ha Ha Ha). Semoga dan amin.
Mari menyambut pergantian dengan semangat baru, dengan setumpuk resolusi yang (bahkan) belum sempat saya tulis. Tapi yang pasti, sama dengan resolusi tahun lalu, motto nihon e ikuuu!!!






Kamis, 15 Oktober 2015

Bandara mati lampu? Ciyusss...

Hari senin kemarin saya dikirim ke Kendari dari kantor. Ini pertama kali saya mengunjungi kota ini jadi sedikit banyak saya terkesan. Tiba di bandara saya disambut oleh para penyedia jasa sewa mobil (taksi) yang menawarkan untuk mengantar ke tempat tujuan dengan tarif yang sudah dipatok-saya jadi ingat, ketika saya ke Bengkulu saya juga ditawari penyedia taksi seperti ini. Jujur saja, karena saya datang sendiri saya tidak berani naik taksi non-argo seperti ini, karena biasanya memang kendaraan yang digunakan pun berbeda dengan taksi yang bisa saya lihat di Jakarta. Kendaraan yang dipakai adalah kendaraan-kendaraan pribadi yang jadi lebih mirip mobil rental/sewa. Berputar-putar sejenak di Bandara Haluoleo, saya bertemu dengan rekan dari kontraktor yang tentu saja akan menuju ke arah yang sama. Saya menghembuskan nafas lega, karena itu berarti bahwa saya tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana saya bisa sampai ke tempat tujuan.

Berbeda dengan perjalanan ke Makassar beberapa waktu lalu, di Kendari saya tidak punya kesempatan untuk jalan-jalan. Selesai acara, saya langsung menuju hotel dan bobo cantik. Saya bahkan terlalu malas untuk beranjak dari kamar untuk sekedar mencari makan, padahal perut saya agak perih karena hanya diisi makan siang tanpa sarapan pun T-T.
Pagi hari, selesai sarapan saya menyempatkan jalan-jalan di sekitar hotel, mencari oleh-oleh. Saya jalan kaki sekitar 300 meter dari hotel. Selama jalan-jalan, saya sama sekali tidak berpapasan dengan pejalan kaki lainnya. Wajar memang, saya berjalan jam delapan pagi, orang-orang pasti sudah mulai aktivitas sekolah atau kerja, sehingga tidak ada yang beraktivitas di luar rumah. Beberapa motor yang ternyata adalah ojeg menawarkan tumpangan, sekitar satu jam di luar saya hanya melihat satu buah angkot lewat. Benar-benar bebas dari kata macet, sebuah suasana yang seolah menjadi utopia bagi kota metropolitan seperti Jakarta. Selain jam kerja, panas matahari yang luar biasa menusuk sepertinya juga menjadi pertimbangan orang-orang untuk beraktivitas outdoor. Teriknya sengatan matahari membuat kulit saya semakin eksotik, terbukti dengan belang bekas sandal di kaki saya yang nampak begitu jelas ketika saya kembali ke hotel setelah jalan-jalan tersebut.
Dari hasil percakapan dengan rekan yang saya temui, katanya siang hari di Kendari memang luar biasa panas, dan pada malam hari suhunya akan turun drastis, dingin sekali. Namun sayang, karena tidak keluar malam, saya tidak merasakan sendiri perbedaan suhu tersebut.
Jam sepuluh pagi saya sudah check out dari hotel, karena rencananya saya mau nebeng rekan yang mau ke bandara (lumayan kan, pemangkasan biaya transportasi). Dengan kondisi jalan yang sangat lancar, bahkan lebih lancar dibandingkan dengan jalan tol Purbaleunyi, saya tiba di bandara jam sebelas kurang. Masih satu setengah jam lagi untuk check in penerbangan ke Jakarta. 

Duduk di dalam bandara, tiba-tiba lampu di seluruh ruangan padam. Saya agak terkejut dengan kejadian ini, tidak begitu lama lampu pun kembali menyala. Namun hal itu kemudian terulang ketika saya sedang check in. Saya semakin menyadari ketidakmerataan yang ada di Indonesia. Pantaslah saya sering mendengar keluhan-keluhan dari warga di luar Pulau Jawa tentang betapa "pilih kasihnya" pemerintah terhadap warga yang ada di luar pulau.

Dalam penerbangan saya ke Jakarta banyak sekali warga Cina. Sebenarnya ketika perjalanan berangkat Jakarta-Kendari pun saya bersamaan dengan rombongan Cina. Saya tidak begitu mengerti tujuan kedatangan mereka. Ingin sekali bertanya, apakah tujuan mereka untuk berwisata ataukah memang mereka bekerja di Kendari. Namun sayangnya, mereka juga sepertinya pasif berbahasa Inggris sehingga tidak bisa mengobrol dengan leluasa.

All Indonesia-Japan Kenshibudo Performance 2015

Tanggal 10 Oktober kemarin saya dapat tiket gratis nonton All Indonesia-Japan Kenshibudo Performance 2015. Acaranya sangat bagus. Ini adalah pertama kali saya menyaksikan kenbujutsu secara lansung, diperagakan oleh orang Jepang pun. Benar-benar bagus.


Dalam http://javanese-samurai.com, kenbujutsu berarti seni tari pedang. Kenbujutsu merupakan kesenian tradisional Jepang yang berupa seni tari dengan menggunakan katana iaito (pedang tumpul) dan sensu (kipas). Gerakan tubuh mengikuti shigin (lagu tradisional Jepang) yang diiringi alat musik seperti shimasen, koto atau shakuhachi.Tariannya berdasarkan pada kisah-kisah heroik para samurai, seperti Hideyoshi Nobunaga dan Sakamoto Ryuma.

Di Indonesia, kesenian ini termasuk baru diperkenalkan, yaitu pada tahun 2010. Meski demikian, dari tahun ke tahun peminatnya semakin banyak. Jadi pada kesempatan ini saya tidak hanya berkesempatan menyaksikan kenbujtsu oleh orang Jepang saja, melainkan juga saya bisa menyaksikan kenbujutsu yang dimainkan oleh para siswa Indonesia.



Setelah acara selesai, para pemain kenbujutsu tersebut dengan ramahnya menyambut ajakan untuk berfoto. Tentu saja saya menjadi salah satu orang yang bersemangat untuk sesi ini.



Semoga kedepannya kenbujutsu dapat lebih dikenal masyarakat Indonesia dan memberikan dampak yang positif bagi hubungan Indonesia dan Jepang :)


Rabu, 07 Oktober 2015

Jumat, 02 Oktober 2015

ようこそ二十六さい... この世界に生まれました本当に良かった!

Hari ini, tepat mengulang 26 tahun lalu saya terlahir ke dunia. Meski seiring berjalannya waktu kadang saya merasa menjadi semakin serakah, saya benar-benar bersyukur telah terlahir ke duania ini, dikaruniai orang tua, keluarga dan sahabat-sahabat terbaik. Kemudian sisi yang saya sebut serakah tersebut mempertanyakan apa yang telah saya lakukan, keberhasilan yang apa yang telah saya peroleh dan puaskah saya dengan menjadi "saya saat ini"?Mungkin karena semua sifat keserakahan yang saya miliki, pertanyaan-pertanyaan itu selalu berulang saat satu tahun umur kehidupan saya berkurang. Ya, berkurang, karena bagi saya umur itu laiaknya lilin yang menyala, setiap "berulang tahun" tidaklah berbeda dengan batang yang meleleh, semakin lama semakin pendek hingga akrinya sumbu habis dan api pun padam. Tapi saya bukan mau berbicara tentang akhir, saya ingin berbicara tentang perjalanan sumbu lilin itu mencapai titik akhir. Ia-sumbu lilin dengan api kecilnya, membakar batang namun memberikan pelita meski tak seterang mentari. Saya selalu berpikir ingin menjadi pelita tersebut, meski kecil saya ingin hidup dengan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Banyak hal yang terjadi pada saya 25 lalu sekarang tanpa saya sadari saya mulai 26. Saya penasaran, hal apa yang akan saya alami, orang seperti apa yang akan saya jumpai dan bagaimana saya akan melalu satu tahun ini. Tidak ada ritual ataupun ucapan khusus, yang pasti, satu hal yang terus saya camkan, bahwa saya sudah harus berhenti bermain-main dengan waktu. Dengan semua "keserakahan" yang saya punya, saya akan memulai tahun ini dengan basmallah, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan barakat. Memulai tahun ini dengan doa semoga semua harapan dan cita-cita dapat terlaksana dengan baik dan saya menjadi orang yang lebih baik dari pada kemarin^^

ようこそ二十六さい...

Jumat, 25 September 2015

Indahnya Pantai Losari


Yohooo... ceritanya, senin kemarin saya dikasih tiket gratis PP Jakarta-Ujung Pandang-Jakarta dari kantor. Bukan tanpa maksud sih, sekalian (katanya) sambil aanwizing lapangan. Cuma begitulah, sebagai wanita, mental free tak bisa dikesampingkan apalagi di kebelakangkan, hehehe... jadilah saya memanfaatkan waktu kosong sebelum terbang kembali ke rimba Jakarta dengan jalan-jalan atau lebih tepatnya foto-foto narsis ala bocah (tabi gak labil).


Tiba di Bandara Hasanudin tengah hari saya disambut oleh sinar matahari yang menyengat luar biasa. Biasanya bulan-bulan ini sudah masuk musim penghujan memang, namun sepertinya alam belum  begitu bersahabat untuk menyejukan bumi. Bandaranya cukup bagus dan bersih, namun sayang, kamar mandinya tidak begitu bersih.
Sambil menunggu rekan yang kebetulan akan tiba satu jam kemudian, saya duduk-duduk di sekitaran bandara. Ini kali kedua saya melakukan perjalanan domestik melalui jalur pesawat terbang. Sebelumnya saya pernah berkunjung (atau lebih tepatnya PPL) di Bengkulu. Perjalanan Jakarta-Bengkulu kurang lebih sekitar 1 jam 15 menit, sedangkan Jakarta-Ujung Pandang kurang lebui sekitar 2 jam 15 menit. Saya baru tahu kalau ternyata perjalanan Jakarta-Ujung Pandang lebih jauh dibandingkan Jakarta-Kuala Lumpur (hahaha... maklum, selama ini saya hanya kenal moda transportasi delman dan ojek).
Aanwiziing selesai sekitar jam setengah tujuh malam, saya pun diantar menuju hotel (mungkin karena saya perempuan satu-satunya dalam acara tersebut, rekan-rekan yang lain jadi begitu baik, fufufu... jadi terharu, terima kasih bapak-bapak sekalian, jazakumullah). Dan di kamar inilah saya akan menghabiskan satu malam, sendiri. 

Hotel yang saya booking tepat berada di kawasan Pantai Losari, karena itu, setelah selesai mandi dan bersih-bersih saya jalan-jalan di sekitar pantai. Khas daerah pantai, sudah berjejer gerobak-gerobak penjual jagung bakar dan kelapa muda. Tapi karena dari pagi perut saya belum diisi apapun, maka saya memutuskan untuk mencari rumah makan yang menjual nasi. Berhubung saya lagi di Makassar, tidak salah donk jika saya mencicipi Cotto Makassar langsung di tempat aslinya. Rasanya enak, hanya saja, bagi lidah saya yang terbiasa dengan makanan "hambar", bumbu cotto terasa terlalu pekat. Tapi secara umum saya menyukainya. Suasana pantai benar-benar ramai, banyak pasangan muda-mudi, keluarga dan rombongan yang nongkrong di sekitaran pantai.
Meski sendiri, saya tidak merasa bosan, ada dua anak perempuan yang juga kebetulan duduk di samping saya, usianya terpaut lima tahunan dengan saya. Mereka bercerita tentang asal dan alasan mereka datang ke pantai malam itu. Setelah cukup puas menghirup udara malam, saya pulang ke hotel, tapi ketika masuk elevator saya mendapati ada lantai rooftop yang dipakai untuk caffee, maka saya pun menekan tombol menuju lantai tersebut. Ternyata hanya caffee biasa, pengunjungnya mungkin tamu-tamu hotel, menu yang disajikan pun tidak terlalu banyak. Jadilah saya memesan segelas es krim vanilla yang terhitung sangat mahal. Heuheu... segelas es krim harganya lebih mahal dibandingkan seporsi cotto makassar ^^".


Keesokan harinya, setelah sarapan saya duduk-duduk di balkon hotel. Pemandangan dari balkon tersebut benar-benar indah. Saya yang lahir dan tumbuh di kota yang jauh dari pantai, selalu terkesima menatap hamparan air yang berpadu dengan birunya langit. Semilir angin seolah meninabobokan dan membujuk saya untuk kembali tidur di kamar. Maka sebelum saya benar-benar "terpedaya" oleh rasa kantuk, saya segera turun menuju lobby hotel.



Sepuluh menit berjalan ke arah utara, saya sampai di Fort Rotterdam. Benteng yang dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 ini cukup luas, karena keterbatasan waktu, akhirnya saya hanya bisa menjelajahi satu gedung yang difungsikan sebagai museum, Museum Lagaligo.




Selesai berkeliling museum saya naik beca ke arah Pantai Losari (lagi). Berbeda dengan suasana malam hari yang sangat ramai, pagi ini saya hanya bertemu dengan beberapa orang saja. Tentu saja, selain terik matahari yang bisa dengan segera membuat kulit menjadi "begitu eksotis", ini juga hari kerja. Maka perjalanan pun diakhiri dengan foto di bawah ini.
Sebelumnya saya tertawa ketika mendengar cerita rekan saya tentang temannya yang pertama kali berkunjung ke Kota Makassar, rela merem (menyipitkan mata lantaran silau oleh cahaya matahari) demi foto-foto di depan pantai. Begitu saya lihat foto-foto yang saya ambil ternyata memang tidak jauh berbeda. Hahahaha...