Senin, 23 Maret 2015

Japan, ikuyo!

Yattaa... rasanya seperti mimpi, berbekal modal nekad, doa dan restu dari orang tua, akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di negeri matahari terbit.
Sejak kecil, saya selalu punya mimpi yang agak nyeleneh, yang mungkin bagi orang lain akan terdengar sangat konyol, tapi nyatanya manusia selalu mengawali sesuatu dengan hal yang dinggap konyol. Anggap saja seperti Albert Einstein yang konon pernah mengerami telur, konyol sekali bukan? Tapi kemudian ia menjadi seorang ilmuwan  besar. Saya mungkin belum punya ide-ide seperti itu, tapi mimpi-mimpi konyol saya diantaranya adalah: sejak SD saya sudah menetapkan pilihan untuk tidak masuk sekolah lanjutan negeri yang notabene menjadi favorit teman-teman sekelas, saya bercita-cita masuk sebuah sekolah agama kecil yang baru didirikan enam tahun sebelumnya. Setelah lulus sekolah tersebut, mimpi saya adalah melanjutkan sekolah di sebuah kota kecil di pinggiran priangan. Tidak ada alasan khusus atau kriteria khusus, asalkan sekolah di kota kecil itu, di manapun sekolahnya, saya akan merasa puas. Lalu sekarang, mimpi saya adalah sekolah di Jepang. Yah, Jepang, negeri para samurai. Tentu saja bukan karena saya ingin jadi seorang samurai, tapi lagi-lagi, itu menjadi sebuah obsesi yang selalu memacu semangat saya untuk belajar.
Alhamdulillah bulan Februari kemarin saya berkesempatan mewujudkan salah satu mimpi besar yang saya miliki.
Saya kesana untuk menghadiri sebuah seminar tentang perencanaan urban dan ini adalah pertama kalinya saya menjadi seorang pembicara di hadapan orang-orang dari berbagai negara.
Bukan hanya seminar, saya juga berkesempatan mengikuti international workshop yang diadakan The University of Kitakyushu (Kitakyushu Daigaku).
Dari samping kiri ada Li, Adlan, Jawid, Zheng Fei, Rica, Eyosiyas, Nanae dan Thai. Berbagai hal menyenangkan terjadi selama workshop. Kami belajar mengungkapkan pendapat dengan kendala keterbatasan penguasaan bahasa inggris, tapi semuanya luar biasa. Benar-benar salah satu pengalaman terbaik pernah mengenal dan bekerja sama bersama dengan orang-orang tersebut. Team 3, fighting! Malam (atau lebih tepat disebut pagi) menjelang pengumpulan desain perencanaan, kata yang paling saya ingat adalah "akiramenaide!". Yah, sampai kapanpun "jangan pernah menyerah" untuk berjuang, kerjakan semampu dan sebaik yang kita bisa, masalah hasil biarlah, yang penting kita belajar dan menikmati prosesnya.
Dengan modal bahasa inggris pas-pasan dan belepotan, cas cis cus menjelaskan konsep desain. Minna, gomen ne, eigo wo benkyousuru soshite jyozu ni naru^^".
Dan yang paling saya suka selama kegiatan ini adalah JALAN-JALAN.
Seperti berada dalam mimpi. Setiap hari mendapatkan hal baru yang selalu membuat saya terkagum-kagum dan semakin jatuh cinta dengan negeri tempat Aa Takeru Satoh dilahirkan ini. Terima kasih banyak kepada Ibu Beta dan keluarga yang sudah berkenan mebantu saya dari sebelum keberangkatan sampai pulang dengan selamat ke tanah air, jazakumullahu khairan kattsiraa.
Ah... Jepang, saya pasti bisa kembali!
Oh ya, terima kasih juga untuk Prof. Bart Dewancker yang sangat membantu pengurusan visa dan memberi kesempatan untuk saya ikut kegitan student exchange ini.
Lain kali, foto-fotonya saya publish. Ja, matta ne^^.







Kamis, 29 Januari 2015

Visa Pertama di Paspor Baru, Yoohoo... Japan I'm coming!!!

Tadaaa...
Udah lama banget saya gak nengok dan corat-coret disini. Harap maklum, beberapa hari belakangan saya agak sibuk (bener-bener AGAK sibuk, karena sebenarnya saya selalu punya banyak waktu senggang), saya sibuk nonton drama, ketawa-ketawa dan nangis-nangis gaje. Hahaha...
Beberapa hari yang lalu saya juga bolak-balik ke kedutaan Jepang di dekat Bundaran HI (kalau naik busway dulu ada Halte Bundaran HI yang posisinya tepat di depan gedung kedubes Jepang, tapi berhubung haltenya dibongkar karena ada pekerjaan MRT, saya turun di Halte Sarinah jalan sekitar 200 meter ke gedungnya). Yattaaa... masih berasa mimpi di siang bolong, saya akan berangkat ke Jepang bulan Februari ini untuk ikutan seminar dan workshop. Bismillah... semoga semua dilancarkan hingga hari H, berangkat dengan selamat dan dua puluh hari kemudian kembali lagi ke tanah air dengan selamat pula. Amin.
Ini pengalaman pertama saya bikin visa dan insya allah jadi pengalaman pertama juga pergi keluar negeri jadi semua proses benar-benar baru saya coba, mulai dari mengumpulkan dokumen peryaratan visa sampai pengambilan visa di kantor kedubes.
Saya pergi dalam rangka seminar jadi persyaratan visa saya relatif mudah, yaitu:
1. Formulir, bisa didownload disini.

Untuk foto, ukurannya 4,5 x 4,5 dengan latar belakang putih. Kalau pergi ke studio foto di sekitaran Jakarta, saya rasa ukuran ini tidak asing, karena pengalaman saya kemarin, ketika menyebutkan ukuran tersebut penjaga studio sudah tahu kalau itu untuk visa ke Jepang. Oh ya, fotonya jangan diedit (pasang muka apa adanya aja... gak usah dimulus-mulusin,hehe). Dan bagi yang berjilbab, foto untuk pengajuan visa boleh juga pakai jilbab cuma jidatnya agak dibuka lebar ya... heuheu... gak jauh beda sama buat paspor lah.

2. Jalwal perjalanan (itinerary), bisa dicek disini.

Jadwalnya isi selengkap mungkin, bahkan cantumkan pula jam untuk tanggal berangkat dan pulang, naik pesawat apa, menginap dimana dan sebagainya. Kalau misalkan mau menginap di hotel, tuliskan juga nama dan alamat hotelnya. Biasanya diminta bukti booking hotel, coba aja googling dulu kira-kira nanti mau nginep dimana. Saya kebetulan mau menumpang di tempat dosen saya yang kebetulan sekarang sedang kuliah disana, beliau berbaik hati ngasih copy-an ID cardnya jadi sebagai data pendukung saya lampirkan juga copy ID card tersebut.

3. KTP dan surat rekomendasi dari kantor atau surat keterangan masih aktif kuliah bagi mahasiswa.

Syarat utamanya sih itu aja, tapi jangan lupa lampirannya:

1. Surat undangan dari penyelenggara seminar. Saya dapet surat itu via EMS, waktu itu kalau tidak salah dikirim dari Jepang hari sabtu, hari selasa sudah sampai di tempat saya.
2. Bukti pemesanan tiket pesawat PP (berhubung visa yang saya ajukan untuk kunjungan jangka pendek, jadi lampirkan bukti pemesanan tiket untuk pulang dan pergi).
Oh ya, waktu mengajukan visa, tiket yang saya lampirkan ada 2 maskapai (hehe... buat selengkap mungkin supaya pihak kedubes tidak khawatir dengan rencana perjalanana kita), pertama untuk penerbangan Jakarta-Osaka-Jakarta dan yang kedua Osaka-Fukuoka-Osaka.
Seminar saya di Fukuoka, cuma untuk menghemat ongkos saya disarankan ambil rute Jakarta-Osaka-Fukuoka.
3. Bukti booking hotel/alamat tempat tinggal kita di Jepang.

Setelah seluruh persyaratan lengkap, hari selasa semua dokumen saya serahkan ke petugas dan katanya kalau tidak ada masalah hari jumat visanya sudah bisa diambil dan diingatkan juga untuk membawa uang Rp. 320.000,- ketika mau ambil. Sayangnya hari jumat hujan turun hampir sepanjang hari, jadilah saya putuskan untuk mengambil visa hari senin.
Oh ya, untuk penyerahan dokumen pengajuan visa, layanannya hari senin sampai jumat jam 08.30 sampai jam 12.00. Sedangkan untuk pengambilan sendiri hari senin sampai jumat jam 13.30 sampai 15.00. Selain itu, pembuatan visa juga diharuskan sesuai wilayah yuridiksi, misalnya saya dari Jawa Barat, pengajuan visanya di Kantor Jakarta. Untuk lebih lengkapnya info bisa dilihat disini
Hari senin, tiga menit menuju jam 13.30 saya tiba di kantor kedubes ternyata nomor antrian saya sudah harus menunggu sebanyak dua puluh nomor. Sepertinya budaya orang Jepang yang tepat waktu diaplikasikan dengan baik di kantor ini, karena meski nomor antrian kita menunggu cukup panjang, cara kerja dan pelayanannya efisien, jadi gak bikin kesel. Tibalah giliran nomor saya dipanggil. Begitu paspor diserahkan, petugasnya bilang "gratis ya,". Eh? Saya melongo. Khawatir salah dengar saya pun memastikan "ini gratis?". Petugasnya menjawab dengan ramah "iya, gratis". Wahhh... alhamdulillah. Rejeki, sodara-sodara! Tapi karena terbuai dengan kegratisan tersebut, saya sampais lupa nanya kenapa bisa gratis...

Yah... begitulah pengalaman saya mengurus visa untuk seminar bulan depan.
Insya allah nanti saya ceritakan lagi tentang perjalanan pertama saya ini. Yoohoo... architecture and adventure. Saya suka kedua hal ini, mari bercerita tentang hal-hal baru yang kita temui di luar sana :)

Rabu, 24 September 2014

Kotoba ni dekinaiyo (Ucapan Selamat Ulang Tahun Dalam Berbagai Bahasa)

Hari ini ada sebuah kalimat yang terus mengganjal dalam pikiran saya. Sebuah kalimat yang kemudian menginspirasi judul tulisan ini, tak bisa terucapkan. Bukan, bukan karena saya sedang sariawan ataupun sakit gigi sehingga saya kesulitan berkata-kata, melainkan lebih karena hati dan pikiran saya (lagi-lagi) berdebat tentangnya, tentang perlu atau tidaknya menyampaikan kalimat ini.

Berawal dari bunyi alarm reminder (yang saya pasang beberapa bulan lalu), sejak pagi hingga sekarang saya masih terus menimbang-menimbang, perlukah saya menyampaikan kalimat ini atau saya harus menahan diri dari rasa penasaran yang kemudian akan membuat saya kecewa karena kecil kemungkinan orang yang saya beri ucapan tak menanggapinya? Oke, maaf, kali ini saya benar-benar labil dan galau dengan tingkat kelabilan yang mengalahkan anak-anak belasan tahun dan tingkat kegalauan setingkat awan mendung yang tak diizinkan menurunkan hujan -_-!!. Saya hanya perlu bercerita, agar tidak menjadi gila karena harus menahan diri dari menyampaikan sebuah kalimat sederhana.

Sebenarnya hari ini saya hanya ingin mengungkapkan ucapan selamat ulang tahun. Hahaha... tapi masalahnya saya tidak punya cukup stok keberanian mengatakan hal itu. Dan sepertinya rasa malu mengalahkan muka badak yang biasanya menjadi topeng yang biasa saya pergunakan. Jadilah saya membuat ini, tulisan bertemakan tentang ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai bahasa. Saya hanya mengutip sepuluh bahasa saja, kalau masih penasaran dengan bahasa lainnya bisa langsung buka sendiri link yang saya cantumkan. Semoga bermanfaat^_^.


Chinesse : 生日快乐 (Shēngrì kuàilè)
Filipino : masaya kaarawan
French : joyeux anniversaire
German : Alles Gute zum Geburtstag
Italian : felice compleanno
Hindi : जन्मदिन मुबारक (Janmadina mubāraka )
Japanese : お誕生日おめでとうございます (O tanjō-bi omedetōgozaimasu )
Korean : 생일 축하 해요  (saeng-il chukhahaeyo)
Spanish : feliz cumpleaños
Vietnamese : sinh nhật vui vẻ
Dan "Selamat Ulang Tahun" dalam Bahasa Indonesia.

 
http://dhienzlittleworld.wordpress.com/2014/03/14/selamat-ulang-tahun-dalam-berbagai-bahasa/


Selamat ulang tahun.
Semoga setiap waktu yang telah terlewati terisi dengan berbagai kebaikan yang diridloi Tuhan.
Selamat ulang tahun.
Semoga waktu yang akan datang selalu terisi dengan keberkahan.
Selamat ulang tahun.
Semoga selalu menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari.
Selamat ulang tahun.
Semoga selalu ada orang-orang baik disampingmu yang menyayangimu.
Selamat ulang tahun.



Rabu, 20 Agustus 2014

Baju Putih Bersih (hampir) Seperti Baru

Saya penyuka warna putih, banyak barang pribadi saya yang berwarna putih, terutama pakaian. Setelah saya perhatikan, selain warna hitam, baju warna putih mendominasi isi lemari. Efek warna sebenarnya tergantung pada persepsi setiap individu, dan bagi saya, putih berarti bersih dan menenangkan. Begitu pula kesan saya ketika melihat pakaian berwarna putih, bersih dan menenangkan.

Banyak orang menyukai baju warna putih, namun dengan alasan perawatan yang sulit membuat kita lebih suka memilih warna lain. Karena tidak tercampur dengan warna lain, ketika ada kotoran menempel biasanya akan terlihat dengan sangat jelas. Selain itu, umur baju yang cukup lama juga biasanya membuat warna putih tidak lagi terlihat benar-benar bersih. Pengalaman pribadi saya, handuk putih yang jarang di jemur diluar (jarang terkena sinar matahari secara langsung), biasanya jadi berbintik-bintik hitam (orang sunda menyebutnya cimeuting) dan susah untuk dibersihkan.
Sekarang saya akan berbagi salah satu tips untuk membuat baju putih kembali bersinar (hampir) seperti baru. Ini berlaku untuk baju putih yang sudah pudar/usang dimakan usia. Sebenarnya ini resep si mbak di kostan, tapi sudah saya praktikan sendiri dan berhasil.
Caranya:
Pertama, rendam baju putih dalam larutan detergent sekitar 1-2 jam, kemudian kucek dengan tangan, bisa ditambahkan produk pemutih jika mau. Tidak usah mengucek terlalu keras, karena bisa merusak serat kain (dan bikin tangan panas juga tentunya). Setelah merasa cukup bersih, bilas hingga busa detergentnya bersih. Setelah busanya bersih, rendam baju dalam air bersih semalaman (sekitar 10 jam). Kemudian jemur di bawah sinar matahari.
Biasanya saya mengulangi proses mencuci baju dengan detergent setelah direndam semalaman, supaya hasilnya lebih baik. Tapi jika anda terlalu repot untuk mengucek ulang, setelah direndam semalaman, cucian bisa langsung dibilas dan dijemur. Dan clinkkk... baju putihpun terlihat lebih bersinar.

Oh ya, ada tips tambahan.
Saya punya rok yang secara tidak sengaja terkena noda oli. Dicuci berkali-kali dengan detergent nodanya tetap tak kunjung hilang, jadilah saya berinisiatif mencari cara membersihkan oli di google. Ternyata, sabun pencuci piring semisal sunlight cukup bisa diandalkan. Setelah direndam dalam detergent, sambil dikucek kain yang kena oli diolesi cairan sabun pencuci piring. Terus aja kucek sampai dirasa nodanya tidak lagi terlihat. Bilas sampai bersih dan jemur.

Semoga baju putih anda bisa tetap terlihat baru dan selamat mencoba^^

Senin, 11 Agustus 2014

just fanfiction: どうして…君を好きになってしまったんだろう?



Januari 23th, 2013; 08:15 pm
“aku akan menikah,” ujar gadis itu pelan, bahkan hampir terdengar seperti sebuah bisikan di telingaku. Mata bulatnya menatapku. Seperti biasa, senyum selalu terbingkai indah di wajah cantiknya. Bahkan hingga detik ini, di saat ia mungkin melihatku dengan wajah tanpa ekspresi setelah mendengar ucapannya.

Januari 23th, 2013; 11:23 am
Handphoneku bergetar pelan, menandakan ada sebuah pesan masuk. Kuhentikan aktivitas menggambarku dan beralih pada benda kecil berwarna hitam itu, segera membuka pesan yang baru saja masuk. Sejenak aku termenung melihat nama pengirim yang terpampang di atas pesan singkat tersebut.
Byeon Da Hye:
“Apa nanti malam kau punya waktu? Ayo bertemu”
Aku segera membalas pesannya dengan menyebutkan nama sebuah coffee shop langganan kami, sebagai tanda persetujuanku untuk bertemu malam ini. Sebuah senyum terkembang di bibirku, mengingat nanti malam akan bertemu dengan gadis bernama Byeon Da Hye.
Setelah memperoleh gelar master dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan internasional di Jerman, akhirnya bulan lalu dia kembali ke Indonesia. Dengan jadwal kami yang sama-sama padat, kami hanya sempat berkirim kabar lewat telpon ataupun sekedar chat melalui jejaring sosial. Tapi aku masih bisa mengingat dengan baik pertemuan pertama kami pada kuliah umum pengenalan kampus tujuh tahun silam.
 
Agustus 29th,2006
“apa kursi ini kosong?” Tanya seorang gadis menunjuk sebuah kursi kosong yang ada di sampingku. Aku segera mengambil tas rangsel yang kuletakan di atasnya. “silakan,” jawabku setelah memindahkan tasku ke bawah. “terima kasih,” ujarnya singkat disertai sebuah senyum di bibirnya.
Kalian percaya dengan istilah love at first sight? Sedetik sebelum ini aku pun tak pernah mempercayainya. Terlalu konyol untuk jatuh cinta pada orang yang tak kita kenal sama sekali. Tapi kali ini aku mengalaminya, aku bisa memastikan bahwa hal itu benar-benar terjadi dalam hidupku. Aku benar-benar terpesona dengan senyum gadis yang baru saja duduk di sampingku. Wajahnya terlihat begitu cantik dengan bulu mata lentik yang menghiasi mata bulatnya yang terlihat bersinar.
***
Kuliah umum ini benar-benar membosankan. Acaranya benar-benar hanya seputar pengenalan kampus saja. Kulirik gadis disampingku yang juga mulai menguap beberapa kali.”acaranya membosankan,” gumannya seolah turut menyetujui pikiranku. “dari jurusan apa?” tanyanya. “arsitektur, kau sendiri?”tanyaku yang sebenarnya memang sudah penasaran ingin mengobrol dengannya, tapi terlalu malu untuk memulai percakapan.
Sebuah senyum merekah di bibirnya, “benarkah? Aku juga dari arsitektur,” serunya dengan tatapan seakan tak percaya. “Byeon Da Hye, namaku Byeon Da Hye. Sepertinya kita akan menjadi teman sekelas, panggil saja aku Da Hye,” ujarnya sambil mengulurkan tangan. “Lee Dong Hae, panggil saja aku Dong Hae,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya. Kami pun mulai mengobrol untuk mengusir kantuk di tengah kuliah umum hingga acara selesai. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari daerah asal, alasan masuk jurusan arsitektur sampai pada rencana unit kegiatan mahasiswa apa yang akan kami masuki nanti.
Yang lucu dari pernyataanya adalah ketika dia menceritakan awal ketertarikannya pada dunia arsitektur. “aku mulai jatuh cinta pada arsitektur setelah membaca sebuah novel, aku benar-benar jatuh cinta pada tokoh utama dalam novel tersebut. Ia adalah seorang arsitek yang memiliki idealisme tinggi ketika mendesain,” ujarnya polos. Berbeda dengan alasanku yang memang ingin menjadi seorang arsitek karena aku mengagumi ayahku yang juga seorang arsitek.
Kami terus berbincang hingga tanpa terasa acara kuliah umum pun berakhir.
“sampai ketemu di kelas Dong Hae-ya” ujarnya sambil melambaikan tangan dan berlalu dari hadapanku. Aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum. Tapi senyumku terhenti ketika teringat bahwa aku lupa untuk meminta nomor handphonenya. “ah, kau melupakan hal penting Dong Hae,” batinku.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku hanya memikirkan tentang perkuliahan pertama yang baru akan dimulai pada hari selasa depan. “semoga kita memang akan sekelas Da Hye-ya,” harapku.

September 4th2006
“Lee Dong Hae…” sebuah suara menyambutku ketika aku baru menginjakan kaki di depan kelas. “sudah kubilang kita pasti sekelas,” lanjutnya. Kulihat Da Hye yang berseru menyambut kedatanganku. Hari ini adalah hari pertama perkuliahan dan kami benar-benar bearada di kelas yang sama. Mungkin hingga kami resmi menjadi sarjana, kami akan selalu bersama. Terima kasih Tuhan.

October 15th, 2007
“ayo bertemu di coffee shop di ujung jalan itu,” ujar Da Hye di sebrang telepon.
“aku masih harus bertemu songsaengnim, masih ada yang harus kuasistensikan untuk tugasku,” jawabku.
“baiklah, datang setelah selesai asistensi saja,” ujarnya lagi.
Hari ini aku ada janji dengan dosen mata kuliah struktur. Aku masih harus mengasistensikan tugasku sebelum pengumpulan tugas dua minggu yang akan datang. Untuk mata kuliah ini aku dan Da Hye berbeda dosen pembimbing, jadi kami jarang asistensi bersama.
***
Aku segera melangkahkan kaki menuju ke dalam coffee shop dimana Da Hye menungguku.
“saengil chukkaeyo…” teriak orang-orang ramai begitu aku masuk. Ternyata beberapa teman sekelasku ada di sana. Sekilas kulirik gadis berambut sepinggang yang berada di deretan depan, tangannya mengulurkan sebuah tart dengan beberapa lilin di atasnya. Gadis itu, Da Hye, hanya memamerkan senyum cantiknya seperti biasa.
Suasana dalam coffee shop benar-benar ramai. Selang beberapa menit kedatanganku, teman-teman yang lain juga berdatangan.
“siapa yang merencanakan ini?”tanyaku pada Yuri, teman sekelas yang kebetulan duduk di sampingku. “ide awalnya dari Da Hye, tapi Leeteuk sebagai ketua angkatan punya andil yang sangat besar dalam pelaksanaanya,” jawab Yuri kemudian berlalu mendekati teman-teman lain yang sedang berkumpul di sudut lain ruangan.
“saengil chukkae Dong Hae-ya,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah kotak terbungkus rapi lengkap dengan pita berwarna biru. “terima kasih,” jawabku sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Entah mengapa, meski kami sudah saling mengenal sejak satu tahun lalu, aku masih sering salah tingkah ketika berhadapan gadis itu.
“ayo buka,” ujarnya lagi.
Aku segera membuka kado tersebut, isinya adalah sebuah jam pasir yang sangat cantik. “kenapa jam pasir?” protesku. Beberapa hari yang lalu, ketika dia bertanya hadiah apa yang kuinginkan untuk ulang tahunku, aku minta CD Ayumi Hamasaki, penyanyi Jepang favoritku. Tapi lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum. “kau pikirkan saja, untukmu jam pasir lebih cocok,”.

October 15th, 2009
“mungkin ini tahun terakhir kita merayakan ulang tahunmu sebagai mahasiswa, Dong Hae-ya,”ujar Da Hye sambil menyerahkan sebuah kado yang juga berpita biru. “apa isinya masih sama?” tanyaku menyelidik. Betapa tidak, setiap ulang tahunku dia selalu memberikan hadiah yang sama, sebuah jam pasir. Hanya berbeda bentuk dan ukuran, intinya tetap sama, yaitu jam pasir.
“buka saja,”ujarnya sambil cemberut. “atau kau tak mau hadiah dariku?” tambahnya sambil meraih kado yang ada di tanganku.
“ah aniyo,” ujarku sambil segera membuka kado yang ada di genggaman tanganku. Dan tentu saja isinya masih tetap sama, sebuah jam pasir. “ini artinya akan ada tiga buah jam pasir yang berjejer di kamarku,”ujarku sambil tersenyum ke arahnya.
“apa kau suka?” tanyanya. Aku mengangguk antusias “apapun yang kau berikan akan kusimpan dengan baik,” jawabku. “jam pasir itu mewakili perasaanku,” ujarnya. “perasaan? perasaan apa?” tanyaku penasaran. Sejujurnya, meski kukatakan aku menyukainya sejak pertama melihatnya, aku tak pernah mengutarakan perasaanku. Selain gadis yang sangat cantik, Da Hye juga gadis yang pintar. Banyak pria yang menyukainya. Salah seorang diantaranya adalah Leeteuk. Beberapa bulan lalu, seisi kelas yang tadinya sibuk dengan tugas studio dibuat kaget dengan penyataan cintanya yang begitu tiba-tiba. “would you be my girl?” tanyanya sambil menyerahkan sebuket mawar putih ke tangan Da Hye. Da Hye yang kebetulan duduk di sampingku sejenak melirikku. Mungkin wajahku terlihat lebih kaget dibandingkan dengan dirinya sendiri. Aku hanya mengangkat bahu dan berusaha mengisyaratkan bahwa “semua keputusan ada di tanganmu,”.
Dan akhirnya mereka pun resmi berpacaran meski hanya tiga bulan.

August 11th, 2010
Seperti yang telah kupikirkan sejak pertama kali bertemu gadis bermata bulat itu, kami akan selalu bersama hingga hari kelulusan. Aku melihatnya mengenakan baju wisuda lengkap dengan toga yang bertengger di atas kepala, rambutnya rapi bersanggul. Aku tersenyum menyambut kedatangannya. Tuhan seolah membuat kami seperti dua orang yang selalu ditakdirkan bersama, kami duduk berdampingan pada hari pertama kami resmi menjadi mahasiswa, lalu sekarang di upacara kelulusanpun kami masih duduk berdampingan.
“kita duduk berdampingan lagi, Dong Hae-ya” ujarnya seperti mengungkapkan apa yang kupikirkan. Aku menatapnya dan tersenyum menyetujui ucapannya. Kami masih sempat membicarakan beberapa hal, mengenang kebersamaan yang kami lalui sebelum upacara wisuda dimulai.
***
Flash. Kedipan cahaya dari kamera polaroid membuatku terkedip seketika. Sebuah foto kemudian tercetak sempurna. Dae Hye tersenyum sambil mengibas-ngibaskan lembar foto yang tercetak “ini untukku ya,” ujarnya sambil menyelipkan foto tersebut kedalam tas kecil yang dibawanya. Tangannya segera meraih pundakku “sekarang ayo foto bersama” dan seperti sebelumnya. Sebuah foto tercetak, menampilkan wajah kami berdua yang masih mengenakan baju wisuda. “ini untukmu saja,” ujarnya menyerahkan foto tersebut. Aku meraih dan segera menyimpannya ke dalam saku. Beberapa orang teman yang lain menghampiri kami dan saling memberikan ucapan selamat atas kelulusan masing-masing.
“selamat Dong Hae-ya,” ujar Da Hye sambil memelukku. Aku tersenyum dan balik memeluknya.
Aku tahu, mungkin ini adalah kebersamaan kami yang terakhir, karena setelah ini dia berencana melanjutkan kuliah di luar negeri sedang aku berencana membantu ayahku di konsultan arsitektur miliknya. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku sangat menyukainya, bahkan aku menyukainya sejak pertama melihatnya. “ Da Hye-ya… “ ujarku pelan, dia melepaskan pelukannya dan mata bulatnya menatapku, menginsyaratkanku untuk melanjutkan kalimatku. Lama aku terdiam.
“selamat,” akhirnya hanya satu kata yang keluar dari bibirku. Semua kalimat yang ingin kusampaikan seolah tercekat dalam kerongkongan. Sama seperti waktu-waktu sebelumnya, ketika aku ingin mengungkapkan perasaanku, sama seperti ketika aku ingin menggelengkan kepalaku saat tatapanmu meminta pendapatku ketika Leeteuk menyatakan cintanya untukmu. Tapi nyatanya tetap tak ada kalimat yang keluar dari bibirku, aku hanya memendam semuanya dalam hati. Aku terlalu takut jika perasaanku bertepuk sebelah tangan dan kemudian ketika aku mengungkapkan semua, kau akan mulai menjauh dan tak lagi berada di sampingku.

February 22th, 2013
Hari ini aku melihatnya dengan senyum merekah yang selalu terbingkai cantik di wajahnya. Mata bulatnya selalu tampak bersinar. Gaun pengantin putih tanpa lengan itu melekat indah di badannya. Sejenak ia berdiri tepat di hadapanku, menatap ke arahku lalu tersenyum. Aku segera membalas senyummu yang mungkin akan terlihat canggung dan gugup. Kualihkan pandangan ke arah pria yang juga melangkah bersamamu. Senyum menghiasi wajahnya, matanya juga tak kalah memancarkan sinar kebahagiaan.
“selamat,” akhinya, hanya kata itu yang kembali keluar dari bibirku. 
"semoga kebahagiaan selalu menyertai hidumu," doaku untuk pernikahannya.


Fanfiction ini sudah mengendap hampir dua tahun di komputer. Saya bahkan hampir lupa kalau saya pernah menulis cerita ini seandainya saja Sri tidak secara tiba-tiba menanyakan kelanjutan ceritanya. Terinspirasi dari sebuah PV DBSK yang berjudul どうして…君を好きになってしまったんだろう, saya menjadikan Lee Dong Hae (Super Junior) sebagai main cast.  Karena sudah lama tertunda saya sendiri sudah luma akhir cerita yang mau saya tulis, jadilah ini cerita lama yang baru menemukan akhirnya hari ini.
Sebagai bonus saya lampirkan link PV tersebut^^.


Plus dua foto Akang Donghae yang saya comot dari google. Hehehe...



Ayo Nostalgia... bersama The Hospital



Hollaaa… sudah cukup lama saya tidak gentayangan dan menulis disini. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah drama yang sedang saya tonton. Bukan drama baru, sebuah drama Taiwan yang memiliki seting dunia kedokteran. Sejujurnya, mungkin ini efek dari jatuh cinta dan patah hati saya pada seorang dokter, jadilah beberapa waktu belakangan ini saya banyak menghabiskan waktu untuk menonton drama yang bertemakan kedokteran, semacam pelarian gitu deh. Hahaha… Tapi positifnya, saya bisa mempelajari dan sedikit memahami tentang dunia mereka.
The Hospital (白色巨) atau dikenal juga dengan judul The Great White Tower , sebuah drama Taiwan tahun 2006. Diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Hou Wenyong. Drama ini dibintangi oleh Jerry Yan (pemeran Dao Ming Se dalam serial drama Meteor Garden). Sama halnya seperti Meteor Garden, drama ini juga sempat tayang di salah satu chanel televisi Indonesia, kalau tidak salah di Indosiar.
Bakat pecinta drama saya memang sudah tumbuh subur sejak zaman masih pakai seragam putih-merah. Saya sempat menonton drama ini di TV dulu, sehingga untuk meresensi dan bernostalgia juga tentunya, sekarang saya menonton ulang drama tersebut.
Pada episode pertama diceritakan tentang Su Yihua (Jerry Yan), seorang spesialis bedah, seharusnya bertanggung jawab melakukan operasi pada puteri presiden tiba-tiba digantikan oleh dokter lain tanpa sepengetahuannya. Setelah operasi selesai berbagai masalah mulai muncul, mulai dari pemasangan portacath hingga pemberian terapi yang tidak sesuai. Hal tersebut menyebabkan kondisi sang pasien semakin memburuk. Su Yihua yang mengetahui keadaan pasien berusaha menjelaskan dan meminta penggantian metode penyembuhan, namun tak digubris hingga dengan kondisi yang semakin memburuk sang puteri presiden harus dipindah ke ruang ICU guna mendapat perawatan yang lebih intensif.
Tak hanya bercerita seputar penyakit dan berbagai masalah yang dialami oleh pasien, sesuai judulnya,  drama ini juga menceritakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah administrasi, fungsional, perebutan jabatan dan kekuasaan yang terjadi di rumah sakit.
Bukan drama namanya jika tidak dibumbui unsur romantis kisah cinta. Diceritakan tentang Su Yihua yang gagal move on dari Gwan Xin, seorang ahli anestesi, pacarnya (atau lebih tepat disebut mantan pacar) sejak zaman kuliah yang sekarang bertugas di rumah sakit yang sama dengannya. Gwan Xin selalu menghindar dari Su Yihua tanpa alasan yang jelas, hingga akhirnya ia bercerita bahwa ia merasa malu karena semasa Su Yihua menjalankan wajib militer dulu, ia berselingkuh dengan pria lain. Meski demikian, Su Yihua tetap meyakinkan Gwan Xin bahwa hal itu bukan masalah baginya. Ia ingin memulai lembaran baru bersama Gwan Xin. Bisakah Su Yihua meyakinkan cintanya untuk Gwan Xin? Bagaimana akhir dari kisah perebutan kekuasaan yang terjadi di rumah sakit? Silakan menonton^^.
Well… drama ini terdiri dari 39 episode dengan durasi perepisode sekitar 45 sampai dengan 50 menit. Secara pribadi saya sangat merekomendasikan untuk menontonnya. Akting Jerry Yan sangat bagus, karakternya sebagai seorang dokter yang memrioritaskan pasien di atas segalanya benar-benar keren. Tidak seperti beberapa karakter dalam drama yang dia perankan, meski tergolong keras kepala namun dalam drama ini dia lebih banyak tersenyum. Untuk penilaian pribadi, dari angka 10 saya kasih 8. Oh ya, dalam drama ini ada Agnes Monica juga, ia berperan sebagai salah satu pasien di rumah sakit tempat Su Yihua bekerja. Penasaran dengan akting Agnes dan Jerry Yan? Ayo ayo, tonton The Hospital^^.

Senin, 12 Mei 2014

Lotte Shopping Avenue (LOVE) Jakarta

Hari minggu kemarin saya jalan-jalan sekitaran Kuningan - Jakarta Selatan. Di sana ada beberapa mall, saya biasanya main ke Ambasador, ITC Kuningan dan pernah juga ke Kota Cassablanca, semuanya ada dalam satu deretan Jl. Doktor Satrio - Jakarta Selatan. Tapi bukan mall - mall itu yang mau saya bahas sekarang, saya sedang ingin membahas tentang Lotte Shopping Avenue yang juga berada di jalan yang sama dengan mall diatas.
Sebagai pengguna kendaraan umum, dari Terminal Kampung Melayu saya cuma perlu naik angkot (metromini) no 44 untuk mencapai Lotte Shopping Avenue dan sampailah saya tepat di depan gedungnya.
Saya sampai sekitar jam 09.30, jadi gedungnya belum buka. Artinya saya punya banyak kesempatan untuk foto-foto dulu di luar (lagi seneng ngumpulin foto-foto biar bisa dishare disini).


Untuk ukuran kota metropolitas seperti Jakarta, sebenarnya melihat gedung mewah dengan desain-desain yang unik bukanlah hal yang luar biasa. Tapi yang unik dari bangunan ini adalah, ketika tiba di pelatan (depan gedung) kita bisa melihat beberapa patung dengan ukuran yang cukup besar. Entah patung-patung siapa itu, heuheu...belum kenalan.

Jam 10.00 pintu dibuka dan masuklah saya (bersama seorang teman) ke dalam gedung. Ketika masuk kita akan disambut dengan sebuket bunga raksasa aneka warna (sayangnya bunga plastik), tapi maaf, karena terlalu banyak penjaga jadi saya tidak berani mengambil foto bungannya. Di samping buket bunga raksasa ada sebuah tangga yang cukup lebar menuju ground level. Yang unik dari tangga tersebut adalah lampu-lampunya (ini juga agak susah dijelaskan karena saya lupa ngambil foto). Kata teman saya, tangga itu biasanya dipakai sebagai ruang pajang mannequin ataupun pergaan busana "oh... pantes desainnya heboh begitu, awalnya kukira itu hanya tangga yang dibuat dengan desain yang sedikit mencolok, he he,".

Masuk ke dalam laiaknya mall-mall lain, banyak tenant dan tentunya karena ini merupakan cabang dari Korea, banyak hal-hal yang berbau Korea Selatan disini.
Tujuan utama saya kesini adalah mau "nengok" Super Junior hand print. Pada acara launching tahun lalu sebenarnya ada member yang datang (tapi kalau gak salah karena Kyuhyun-member yang saya suka- gak datang, saya juga gak datang ke acara, he he), karena mereka masih jadi brand ambassador Lotte Shopping Avenue.

Teman saya bilang kalau mau belanja di Lotte Duty Free harus menunjukan paspor. Itu artinya saya gak bisa beli disana karena saya bahkan belum bikin paspor sampai hari ini, tapi benar atau tidaknya saya belum tahu karena memang tidak masuk ke Lotte Duty Free. Nanti deh, kalo sekali waktu saya berkunjung lagi kesana dalam keadaan saya sudah punya paspor saya kabari lagi keabsahan infonya :p.
Selain ada Lotte Duty Free, di Ground Floor, ada Uniqlo dan tenant bidang kosmetik, sepatu, dan tas. Lantai 1F sepertinya lebih diperuntukkan bagi perempuan, dengan ragam pilihan busana, aksesori, hingga lingerie. Baru di lantai 2F ditemukan beragam pilihan untuk busana pria, pakaian olahraga, perlengkapan rumah tangga, dan sejenisnya. Untuk anak-anak ada di lantai atasnya, seperti taman bermain hingga tenant yang menyediakan berbagai produk. Hiburan seperti film dan Lotte Duty Free ada di lantai 4F dan 5F.



Secara keseluruhan eksterior dan interior gedung memberi kesan modern dan dinamis. Bagi anda para pecinta K-pop, tempat ini juga bisa menjadi alternatif tempat jalan yang menarik, karena selain ada hand print para idol, ada pula standing banner yang memungkinkan anda berfoto bersama mereka.

Yang terakhir ini saya kasih bonus foto narsis saya ya, ha ha ha....